– Prabumulih pena sriwijaya nusantara Pasien Cuci Darah Sempat Kebingungan di RSMH Palembang, Garda Prabowo Turun Jemput
– Pasien Sempat Sendirian Usai Cuci Darah di RSMH, Garda Prabowo Prabumulih Datang Menjemput
– Drama Pasien Cuci Darah di RSMH Palembang, Ambulans Pulang Lebih Dulu, Garda Prabowo Jemput Fatimah
– Sempat Mengaku Ditinggalkan Ambulans, Fatimah Akhirnya Dijemput Garda Prabowo
– Pasien Lansia Sempat Terlantar Usai Cuci Darah, Kadinkes Ungkap Kronologi Sebenarnya
PRABUMULIH – Seorang pasien cuci darah asal Kota Prabumulih, Fatimah (72), warga Perum Arda, Kelurahan Karang Raja, Kecamatan Prabumulih Timur, mengaku mengalami kejadian yang membuat dirinya sempat terlantar di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Senin (31/8/2026).
Fatimah mengaku ditinggalkan mobil ambulans PSC Prabumulih setelah menjalani cuci darah di RSMH Palembang. Beruntung, kondisi tersebut mendapat perhatian dari pihak Garda Prabowo Prabumulih yang kemudian menjemput Fatimah untuk membantunya kembali ke Prabumulih.
Menurut pengakuan Fatimah, dirinya berangkat dari Prabumulih sekitar pukul 08.00 WIB bersama sebelas pasien lainnya menggunakan ambulans PSC Prabumulih untuk menjalani cuci darah di Palembang.
Fatimah mendapat jadwal cuci darah sesi ketiga, yakni mulai pukul 17.30 WIB. Setelah menjalani proses cuci darah, Fatimah mengaku selesai sekitar pukul 20.30 WIB.
Namun, setelah keluar dari ruang perawatan, Fatimah mengaku mendapati ambulans yang sebelumnya membawanya bersama pasien lainnya sudah tidak berada di lokasi.
“Saya selesai cuci darah, ternyata ambulans sudah pergi. Saya ditinggalkan di sini,” ungkap Fatimah.
Dalam kondisi tersebut, Fatimah mengaku bingung harus berbuat apa. Terlebih, dirinya baru saja menjalani proses cuci darah dan merupakan pasien lanjut usia.
Beruntung, kabar mengenai kondisi Fatimah kemudian diketahui pihak Garda Prabowo Prabumulih. Mereka langsung mengambil langkah untuk menjemput Fatimah di RSMH Palembang dan membantu memastikan dirinya dapat kembali ke Prabumulih.
Ketua Garda Prabowo Prabumulih, Sulaiman, mengatakan pihaknya merasa terpanggil setelah mengetahui adanya pasien asal Prabumulih yang membutuhkan bantuan untuk pulang setelah menjalani cuci darah.
“Kami mendapat informasi bahwa ada pasien asal Prabumulih yang terlantar setelah selesai cuci darah di Palembang. Karena itu, kami langsung berupaya menjemput dan membantu yang bersangkutan agar bisa kembali ke Prabumulih,” kata Sulaiman.
Menurutnya, kondisi pasien yang sudah lanjut usia dan baru menjalani cuci darah menjadi perhatian utama pihaknya.
“Ini menyangkut kemanusiaan. Apalagi beliau sudah berusia 72 tahun dan baru selesai menjalani cuci darah. Kami tidak ingin beliau sendirian dan kebingungan di rumah sakit,” ujarnya.
Sulaiman berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, pasien yang menggunakan layanan transportasi untuk menjalani pengobatan di luar daerah semestinya mendapatkan perhatian hingga proses kepulangan.
“Kami berharap ke depan persoalan seperti ini tidak terulang. Pasien harus menjadi prioritas, apalagi pasien lanjut usia dan membutuhkan penanganan khusus,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Prabumulih Djoko Listyano, SKM, M.Si, menyebut kejadian tersebut hanya merupakan miskomunikasi.
Djoko menjelaskan, pada Senin pagi terdapat 12 pasien yang diantar menggunakan ambulans PSC Prabumulih ke Palembang untuk menjalani cuci darah.
Menurutnya, masing-masing pasien melakukan pendaftaran cuci darah secara online sehingga mendapatkan jadwal atau sesi yang berbeda.
“Pagi tadi ada 12 pasien yang diantar PSC ke Palembang untuk cuci darah. Mereka masing-masing daftar secara online, sehingga mendapatkan sesi yang berbeda,” jelas Djoko.
Fatimah, lanjut Djoko, mendapatkan jadwal cuci darah pada sesi ketiga, sementara 11 pasien lainnya mendapatkan sesi kedua.
Karena tidak ingin menunggu terlalu lama hingga sesi ketiga selesai, 11 pasien tersebut kemudian meminta untuk diantar terlebih dahulu kembali ke Prabumulih.
“Karena 11 pasien lainnya mendapatkan sesi kedua dan tidak mau menunggu lama, mereka meminta diantar pulang dulu ke Prabumulih. Sedangkan Ibu Fatimah masih menunggu giliran sesi ketiga,” terangnya.
Djoko menambahkan, berdasarkan keterangan dari sopir ambulans, sebelum meninggalkan RSMH Palembang untuk mengantar 11 pasien lainnya, sopir tersebut telah berkomunikasi dengan Fatimah.
“Menurut pengakuan sopir ambulans tadi, dia sudah komunikasi dengan Ibu Fatimah. Disampaikan bahwa setelah mengantar 11 pasien pulang ke Prabumulih, dia akan kembali menjemput Ibu Fatimah,” kata Djoko.
Dengan demikian, Djoko menegaskan persoalan tersebut bukan karena pasien sengaja ditinggalkan, melainkan terjadi miskomunikasi terkait jadwal kepulangan ambulans.
“Jadi ini hanya miskomunikasi saja. Sopir sudah menyampaikan kepada Ibu Fatimah bahwa setelah mengantar pasien lainnya pulang ke Prabumulih, akan kembali lagi menjemput beliau,” pungkasnya.(ytn)









